h1

Masa Depan Islam

June 29, 2007

Apa yang kita bisa lihat setiap kali kita lebih dalam di diri kita, setiap kali hubungan kita dengan Allah Subhanahu Wa Ta’Ala semakin dekat, apakah yang kita bisa lihat?
Kejelasan di atas kejelasan. Dalam surat-suratnya Shaykh Darqawi kerap menyampaikan bagaimana caranya berdekatan dengan Allah Subhanahu Wa Ta’Ala dengan cara meninggalkan nafs kita, beliau menerangkannya dari berbagai sudut dan pendekatan bak pendekatan ilmiah. Semua orang yang ingin memperdalam hal ini merujuk Shaykh Darqawi. Menurut saya bagi ummat sekarang tak ada yang bisa lebih gamblang lagi, Shaykh Darqawi mengatakan dengan uraian yang luar biasa, “Tanggalkan semuanya! Tinggalkan semuanya! Sirnalah! Menghilanglah! Jangan sampai kalian tempatkan diri kalian di atas kewajiban kalian!” Tanggalkan semuanya. Kemudian ia berkata, “Yang akan kalian lihat adalah keyakinan. Keyakinan. Keyakinan bak cahaya. Keyakinan pada “La haula wa la quwatta illa Billah.” Keyakinan semacam itu adalah hakikat kenyataan, bagaikan melihat seluruh alam dengan cara yang sangat berbeda. Segala sesuatu yang sebelumnya bak penjara diputar-balikkan, segala sesuatu yang tadinya rintangan menjadi solusi dan pintu yang terbuka lebar. Ingatlah, semakin besar kesulitan yang kita hadapi (yang sebenarnya cerminan diri kita sendiri) kita harus sadar bahwa semakin besar pulalah jalan yang terbuka. Saya akui ada beberapa keadaan kini yang benar-benar asing dalam sejarah Islam. Kita belum pernah hidup tanpa adanya khalifah. Tugas mengembalikan Khalifah memang nampak besar, namun seorang Mumin tahu bahwa beserta tugas yang besar, tersedia pula jalan yang besar. Dengan kata lain Allah Subhanahu Wa Ta’Ala memberikan hadiah besar bagi generasi luar biasa sekarang ini, yaitu tugas menegakkan kembali Diinul-Islam di masa sekarang. Ini hanya untuk orang-orang yang luar biasa.

“Inna maa al-‘Usri, Yusra” – beserta kesulitan ada kemudahan. Dan di dalam kesulitan ini, ada kemudahannya. Bagi kita di zaman ini ada jalan yang terbentang dan ada keuntungan besar, yang belum pernah dialami orang-orang sebelum kita. Bagi mereka yang hidup di saat semua sudah siap tersedia tentu saja ada keuntungan pula. Namun, apa yang akan terjadi adalah suatu yang luar biasa khusus bagi orang yang luar biasa. Begitulah seharusnya cara pandang kita terhadap urusan kita sekarang. Kejadian-kejadian akan beralir mudah, bak membalikkan halaman-halaman sebuah buku. Tak akan ada rintangan dalam membalikkan halaman-halaman itu namun rintangan berada di dalam kita sendiri, bagaimana kita membalikkan diri kita dan membuka kalbu kita sedemikian sehingga nampaklah buku itu ada di depan kita, dan kita tinggal membalikkan halaman-halamannya. Kesuiltannya tereletak dalam membalikkan diri kita, bukan sebelum itu, dengan kata lain, memang apa yang harus dikerjakan tangan kita banyak, namun jauh lebih sedikit dibanding apa yang harus dilakukan kalbu kita. Itulah sebabnya Shaykh Darqawi mengomentari perkara ini sebagai berikut, “Urusan kalbu membuat urusan anggota badan tak berarti. Apa yang anda dapat balikkan dengan kalbu dan apa yang dapat anda lakukan dengan kalbu membuat segala sesuatu yang dapat anda lakukan dengan anggota badan tak berarti.”

Maka, janganlah anda menjadi seseorang yang ketika menimbang apa yang ia bisa lakukan atau tidak, melihat diri dia sendiri dan berkata, “Apa yang saya punya? Apa yang saya tahu? Memangnya aku siapa?” Jika anda begitu, anda takkan bisa melakukan apa-apa, nol besar, janganlah waktu anda terbuang sia-sia, percayalah pada saya. Kedua tanganmu tak akan membawa anda melakukan apapun dan ke manapun. Tapi ada satu alat yang anda miliki, alat satu-satunya yang bisa membalikkan semuanya – tanpa kecuali! Hal-hal yang tak dapat diubah dengan tangan kita, walaupun secara berjamaah, dapat diubah dengan yang satu ini, yaitu kalbu anda.

Kalbu berkemampuan luar biasa, bisa membuat suatu yang besar dan raksasa menjadi suatu yang kecil mungil. Suatu yang kecil dan tak penting, menjadi agung dan besar. Yang jauh jadi dekat. Suatu yang rapat hingga menyempitkan bak penjara dan menghambat anda, dilempar balik atau jauh-jauh. Semua dapat anda lakukan dengan kalbu, anda takkan bisa melakukannya dengan kedua tangan anda. Inilah yang kita miliki. Inilah alat kita. Dengan inilah kita dapat maju. Dengan inilah semua akan jelas dan nampaklah apa yang harus kita kerjakan. Semua kejadian dan urusanmu akan terbuka dan terbentang dihadapanmu bagaikan hakikat keseharian anda – seperti nafasmu, dan pembukaan-pembukaan akan hadir dan terbentang di depanmu dengan cara yang tak ada keraguan di dalamnya sedikitpun. Anda akan tahu persis anda harus kemana. Semuanya akan hadir dengan jelas dan gamblang.

Ragu adalah sumber kekacauan kita. Sukses diraih dengan mengenali apa saja yang penting kita ubah, mengenal rintangan-rintangan di hadapan kita, yaitu raksasa-raksasa yang sebenarnya kita buat sendiri, seolah-olah ada kuasa menghalangi segala sesuatu yang berhubungan dengan Diinul-Islam. Kita harus memahami bahwa dalam setiap musuh dan raksasa kreasi kita sendiri, disanalah letak alat-alat kita untuk menggapai sukses dan kemenangan. Kita harus paham bahwa kita bisa membalikkan semua masalah besar menjadi solusi besar dengan sekejap mata, dan tahu bahwa segala kekurangan dan kelemahan kita bisa dibalikkan menjadi kelebihan dan kekuatan kita untuk maju. Tidaklah sulit melihat sisi mana yang dibutuhkan perjuangan Muslimin untuk langkah maju, dan sisi tersebut terkait dengan sistem ekonomi yang ada sekarang. Sistem ekonomi ini hampa! Apakahyang disebut sebut sebagai sistem ekonomi? Riba! Riba. Apakah riba itu? Riba pun hampa, namun telah menjadi agama dan menjadi tatanan hidup segenap manusia. Apa yang saya pernah katakan mengenai konstitusi? Konstitusi adalah hakikat diin (cara hidup) yang palsu, yang memaksa khalayak untuk menurutinya tanpa toleransi. Toleransi hanya berlaku dalam agama-agama lainnya, tidak dalam agama kapitalisme. Kapitalisme semena-mena dan tak dapat ditawar. Kita tak bisa menjumpai manajer bank dan berkata, “Tau tidak, bulan ini aku tak mau bayar bunga karena aku tak percaya dengannya. Aku ini sebenarnya ateis. Simpan saja bungamu, aku tak lagi mau membayar.” Mereka takkan menanggapi masalah ini dengan tingkat toleransi yang tinggi. Anda akan dipenjarakan, dan jika anda menolak, anda akan dibunuh. Sejauh inilah diin mereka. Komitmen mereka total.

Metode inilah pondasi kapitalisme. Jadi tak heran jika kita katakan bahwa sebagian besar yang harus diubah untuk masa depan kita adalah bagaimana Islam menjadi sebab tamatnya kapitalisme, dan bahwa kita akan memerangi kapitalisme, bukan kristen. Kristen sudah tamat. Tak tersisa. Ada sedikit sisa sepercik romantika dan semangat. Mereka tak punya syariat, bahkan tak punya apa-apa lagi. Coba anda tengok acara para evangelis (dawah kristen) di televisi, dalam lima menit saja anda akan bisa lihat hakikatnya. Yang tersisa tinggal semangat dan emosi saja. Tangan diangkat, disertai kelakuan-kelakuan buruk lainnya yang biasa mereka lakukan. Bagi yahudi pun sama saja. Dalam quran Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkata bahwa sebagian besar dari mereka adalah ateis. Apalagi hindu, budha, atau kepercayaan baru lainnya, tentu tak perlu kita komentari karena semuanya hampa.

One comment

  1. mungkin tamatnya hanya di tv saja? karena buktinya tempat ibadahnya tetap bertambah, dan tahun depan akan muncul lagi partai mereka (jadi akan ada 2 partai)

    tapi tetep setuju, musuh utama adalah kapitalisme, ah seandainya orang2 seperti mereka semakin cepat hangus dari bumi ini, ah seandainya…

    kapitalisem?
    baunya saja sudah sampai di dapur kita…



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: